Jangan Anggap Remeh! Kenali Penyebab Penyakit Difteri Dan Cara Mengatasinya

Jangan Anggap Remeh! Kenali Penyebab Penyakit Difteri Dan Cara Mengatasinya - Belakangan kita sempat dihebohkan dengan sejumlah kasus kematian akibat penyakit difteri. Lebih parahnya lagi, kasus kematian ini sering diakibatkan keengganan masyarakat melakukan vaksinasi. Padahal, menurut WHO mengetahui penyebab penyakit difteri dan cara mengatasinya sangatlah penting sebagai salah satu bentuk pencegahan karena penyakit ini tidak hanya menyerang balita dan anak-anak saja, tapi orang dewasa.


Pengertian dan Penyebab Penyakit Difteri
Menurut badan kesehatan dunia WHO, difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini sangat berbahaya karena menghasilkan racun sehingga mampu merusak jaringan dan organ manusia. Salah satu jenis penyakit difteri ini menyerang melalui tenggorokan dan amandel.

Untuk kasus yang lebih parah, bakteri difteri bisa merusak jantung dan sistem saraf sehingga bisa menimbulkan kematian. Malah orang-orang yang tinggal diiklim tropis seperti Indonesia, difteri juga bisa menimbulkan bisul di kulit. Dengan tingkat vaksinasi yang rendah, masyarakat yang hidup didaerah seperti ini lebih rentan terserang.

Dalam catatan WHO sendiri tahun 2000 lalu tercatat 30.000 kasus dengan 3000 angka kematian di seluruh dunia. Yang paling parah angka ini menyerang anak-anak yang tidak terimunisasi. Indonesia sendiri sejak tahun 2011 tercatat 3.353 kasus yang terlapor. Hingga tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat ke-dua setelah India dengan kasus terbanyak. Dengan prosentase 90% penderita yang tidak punya riwayat imunisasi difteri, angka ini jelas sangat mengkhawatirkan.
Penyebab Penyakit Difteri Dan Cara Mengatasinya

Bagaimana Seseorang Bisa Terinfeksi Difteri?
Mengetahui penyebab penyakit difteri dan cara mengatasinya sangatlah perlu. Salah satunya adalah memastikan dari mana penyeberan penyakit ini bermula.

Penyakit difteri umumnya menyebar melalui kontak fisik secara langsung dan melalui udara antara penderita dan orang di sekitarnya. Melalui penyebaran ini, bakteri akan berpindah ke tempat baru dan menginfeksi nasofaring sehingga penderita kesulitan bernapas dan akhirnya meninggal. Beberapa hal yang wajib Anda perhatikan tentang penyebaran penyakit ini antara lain:

  • Percikan ludah yang terhirup, misalnya bersin dan batuk. Penyebaran bakteri melalui dua hal ini adalah yang paling umum. 
  • Barang-barang terkontaminasi oleh bakteri, seperti mainan dan handuk. 
  • Seseorang bersentuhan langsung dengan borok atau ulkus penderita difteri. Terlebih bila lingkungan penderita tidak bersih. Ini berbahaya. 


Ketika bakteri Corynebacterium diphtheriae menginfeksi tenggorokan, sel-sel sehat akan mati. Kemudian sel-sel yang sudah mati ini akan membentuk lapisan membran berwarna abu-abu dan terus menyebar ke aliran darah, ginjal dan bahkan jantung.

Apa Saja Gejala Penyakit Difteri Ini?
Gejala awal ketika bakteri penyakit ini menginfeksi tubuh adalah sakit tenggorokan, kehilangan nafsu makan diiringi flu dan menggigil. Membran yang dibentuk oleh sel-sel mati tadi kemungkinan juga akan berdarah. Bila sampai hal ini terjadi, membran akan berwarna kehijauan hingga kehitaman, dan pasien kemungkinan akan menunjukkan perubahan seolah-olah sembuh. Sebaliknya ada juga yang justru melemah dan meninggal dalam waktu 6-10 hari.

Untuk kasus yang lebih parah, pasien justru mungkin tidak mengalami demam tinggi, namun mengalami kesulitan napas dan menelan. Disamping itu, kelenjar limpa akan membengkak disertai kelelahan dan cairan pilek yang kental dicampur darah.

Selain gejala di atas, banyak juga kasus munculnya borok atau luka karena penyakit ini juga menyerang kulit. Parahnya, borok akan meninggalkan bekas dan masa sembuhnya membutuhkan waktu beberapa bulan.

Karena difteri merupakan penyakit berbahaya, ada juga penderita yang tidak menyadari sedang terserang penyakit ini, sehingga berpotensi menyebar ke orang disekitarnya. Terlebih anak-anak. Jadi orang tua sebaiknya mulai berhati-hati saat anak mulai menunjukkan gejala awal.

Siapa Saja Yang Berpotensi Terkena Penyakit ini?
Selain kontak langsung dengan penderita, beberapa faktor pemicu infeksi bakteri Corynebacterium diphtheriae antara lain:

  • Anak-anak dan orang dewasa yang tidak melengkapi tahapan imunisasi.
  • Orang yang tinggal di lingkungan kumuh dengan sanitari yang buruk.
  • Seseorang yang bepergian ke tempat endemic difteri.


Komplikasi akibat infeksi Corynebacterium diphtheriae ini di fase awal dan beberapa minggu kemudian yaitu:

Kerusakan Jantung
Detak jantung tidak tentu sehingga bisa mengakibatkan gagal jantung. Ada juga yang mengalami inflamasi pada otot dan katup jantung yang mengakibatkan gagal jantung dan penyakit jantung kronis.

Masalah Pernapasan
Komplikasi difteri paling parah adalah susah bernapas hingga mengakibatkan kematian. Sel mati yang membentuk membran tadi menghambat pernapasan karena partikelnya luruh ke dalam paru-paru sehingga memicu peradangan dan mengakibatkan gagal pernapasan.

Kerusakan Saraf
Racun yang menyebar ke dalam tubuh mengakibatkan kerusakan saraf sehingga mengakibatkan penderita kesulitan bernapas, mengalami sakit di saluran kemih, kelumpuhan diafragma hingga pembengkakan saraf kak dan tangan. Untuk anak-anak yang terlnajut terinfeksi penyakit ini disarankan berada di rumah sakit selama setidaknya 1,5 bulan setelah sembuh dari infeksi, sebab biasanya terjadi kesulitan bernapas.

Pengobatan Penyakit Difteri 

Diagnosis penyakit difteri biasanya dilakukan observasi oleh dokter, misalnya gejala-gejala awal yang sedang dialami. Dokter pun juga akan mengambil sampel lendir dari hidung, ulkus, tenggorokan dan hidung untuk dicek di laboratorium. Bila akhirnya diduga kuat menderita penyakit ini, mereka akan segera melakukan pengobatan secara tepat di dalam ruang isolasi di rumah sakit. Bahkan kadang tanpa harus menunggu hasil laboratorium. Langkah pertama yang akan mereka lakukan adalah dengan memberikan antibiotik dan antioksin yang didasarkan pada tingkat keparahan penyakit.

Umumnya isolasi ini selesai dalam 2 hari. Tapi juga tergantung lagi pada tingkat keparahan penyakit. Namun perlu diingat, pemberian anti biotik ini membutuhkan sekitar 2 minggu. Setelah itu, pasien akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan apakah bakteri ada dalam aliran darah atau tidak. Jika ternyata bakteri ini masih ada, maka antibiotik akan diteruskan hingga 10 hari.

Untuk pemberian antitoksin sendiri bertujuan untuk menetralisir racun yang menyebar di tubuh. Pihak dokter sendiri juga akan cek apakah ada alergi terhadap reaksi obat. Khusus kasus kesulitan bernapas, dokter akan menyarankan pengangkatan membran. Dokter pun juga menyarankan agar memeriksakan orang-orang di dekatnya karena difteri ini mudah sekali menular.

Setelah tahu penyebab penyakit difteri dan cara mengatasinya, kini saatnya melakukan pencegahan. Menurut WHO, pencegahan yang paling efektif adalah dengan imunisasi. Di beberapa negara biasanya diberikan kombinasi vaksin; termasuk difteri, tetanus, pertusis, vitamin (HepB) dan Haemophilus influenza tipe b (Hib). Setiap tahun, dosis akan ditambah untuk orang dewasa demi menjaga imunitas.

Seberapa Aman Vaksin Difteri Ini? Apa Saja Efek Sampingnya?

Ada beberapa efek samping yang diderita setelah melakukan vaksinasi difteri ini, antara lain:
Demam - Sebagian besar anak-anak yang divaksin DTP mengalami demam di sore hari. Gejala ini biasanya akan hilang setelah 24 jam. Orang tua tidak usah risau dan khawatir karena ini sebenarnya hanya reaksi tubuh terhadap vaksin itu sendiri.

Cukup berikan paracetamol atau antipyretic yang pas setelah sekitar 8 jam sehabis imunisasi.

  • Kram dan Sakit - Disekitar area tempat injeksi terasa sakit dan kram. Kadang juga muncul kemerahan dan bengkak di area bekas injeksi. 
  • Sering menangis - Hal ini umum terjadi pada balita bila menangis lebih dari 3 jam. Tangisan ini dikarenakan rasa sakit setelah imunisasi.  

Penyakit difteri merupakan penyakit berbahaya. Jadi jangan anggap remeh dan mengabaikan vaksinasi sehingga mengancam kesehatan keluarga. Mengetahui penyebab penyakit difteri dan cara mengatasinya adalah cara yang terbaik sebelum terlambat.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Subscribe to receive free email updates: