Stratifikasi Sosial (Bentuk, Unsur, dan Fungsi)

Stratifikasi Sosial (Bentuk, Unsur, dan Fungsi). Pada kesempatan kali ini webmateri akan memberikan informasi mengenai materi mata pelajaran Sosiologi. Adapun materi yang akan dibahas adalah Stratifikasi Sosial, Bentuknya, Unsurnya, dan Fungsinya. Mari kita simak bersama materinya dibawah ini.

Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial
Setiap lapisan dalam susunan tertentu mempunyai sifat dan kesatuannya sendiri. Namun demikian, setiap lapisan memiliki sifat yang menghubungkan suatu lapisan dengan lapisan yang berada di bawah atau di atasnya. Secara sederhana, stratifikasi sosial terbagi ke dalam tiga lapisan, yaitu lapisan atas (upper), lapisan menengah (middle), dan lapisan bawah (lower).

Bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakat ada bermacam-macam, seperti stratifikasi ekonomi, stratifikasi politik, dan stratifikasi sosial.

a. Stratifikasi Ekonomi
Stratifikasi ekonomi dapat dilihat dari segi pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan. Stratifikasi ekonomi mendasarkan pelapisan pada faktor ekonomi. Jadi, orang-orang yang mampu memperoleh kekayaan ekonomi dalam jumlah besar akan menduduki lapisan atas. Sebaliknya, mereka yang kurang atau tidak mampu akan menduduki lapisan bawah. Dengan demikian, kemampuan ekonomi yang berbeda menyebabkan terjadinya stratifikasi ekonomi.

Golongan masyarakat yang menduduki lapisan atas dalam stratifikasi ekonomi, misalnya pengusaha besar, pejabat, dan pekerja profesional yang memiliki penghasilan besar. Sementara itu, golongan yang menduduki lapisan sosial paling bawah, antara lain gelandangan, pengemis, pemulung, dan buruh tani. Stratifikasi ekonomi bersifat terbuka karena memungkinkan bagi masyarakat untuk pindah ke lapisan sosial yang lebih tinggi jika mampu dan berprestasi.
Stratifikasi Sosial (Bentuk, Unsur, dan Fungsi) (image: freepik.com)

b. Stratifikasi Sosial
Pelapisan jenis ini berhubungan dengan status atau kedudukan seseorang dalam masyarakat. Menurut Max Weber, manusia dikelompokkan dalam kelompok-kelompok status berdasar atas ukuran kehormatan. Kelompok status ini, didefinisikan Weber sebagai kelompok yang anggotanya memiliki gaya hidup tertentu dan mempunyai tingkat penghargaan sosial dan kehormatan sosial tertentu. Pembagian pelapisan pada kriteria sosial maksudnya adalah stratifikasi, antara lain dalam arti kasta, pendidikan, dan jenis pekerjaan.

Stratifikasi sosial berdasarkan kasta dapat dijumpai pada masyarakat India. Masyarakat India menjalankan sistem kasta secara ketat dan kaku. Sistem kasta ini didasarkan pada agama Hindu. Dalam sistem kasta tidak memungkinkan bagi seseorang untuk dapat pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lainnya.

Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria pendidikan karena orang-orang di dalam sangat menghargai pendidikan sehingga menempatkan mereka yang berpendidikan tinggi ke dalam kedudukan yang tinggi pula. Stratifikasi sosial bidang pendidikan bersifat terbuka, artinya seseorang dapat naik pada tingkat yang lebih tinggi apabila dia mampu dan berprestasi.

Stratifikasi pendidikan dapat dikelompokkan sebagai berikut :
  • Pendidikan sangat tinggi, antara lain doktor dan profesor;
  • Pendidikan tinggi, antara lain sarjana dan mahasiswa;
  • Pendidikan menengah adalah mereka yang mengenyam bangku SMA;
  • Pendidikan rendah adalah mereka yang mengenyam pendidikan hanya sampai tingkat SD dan SMP;
  • Tidak berpendidikan atau buta huruf.


Stratifikasi berdasarkan kriteria sosial yang lain adalah stratifikasi bidang pekerjaan. Stratifikasi ini mendasarkan pada keahlian, kecakapan, dan keterampilan seseorang. Astried S.
Susanto membagi pelapisan sosial bidang pekerjaan berdasarkan ukuran keahlian, sebagai berikut :
  • Elite adalah orang kaya dan orang-orang yang menempati kedudukan atau pekerjaan yang oleh masyarakat sangat dihargai.
  • Profesional adalah orang yang berijazah serta bergelar dari dunia pendidikan yang berhasil.
  • Semi profesional, misalnya pegawai kantor, pedagang, teknisi pendidikan menengah, dan mereka yang tidak berhasil mencapai gelar.
  • Tenaga terampil, misalnya orang-orang yang mempunyai keterampilan mekanik teknik, pekerja pabrik yang terampil, dan pemangkas rambut.
  • Tenaga semi terampil, misalnya pekerja pabrik tanpa keterampilan, pengemudi truk, dan pelayan restoran.
  • Tenaga tidak terampil, misalnya pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan penyapu jalan.


c. Stratifikasi Politik
Indikator yang digunakan untuk membedakan masyarakat berdasarkan dimensi politik adalah kekuasaan. Jadi, politik identik dengan kekuasaan. Mereka yang memiliki kekuasaan terbesar akan menduduki lapisan sosial atas. Begitu pula sebaliknya, yang sedikit bahkan sama sekali tidak memiliki kekuasaan akan berada pada lapisan bawah. Kekuasaan adalah kemampuan untuk memengaruhi individu-individu lain dan memengaruhi pembuatan keputusan kolektif.

Robert D. Putnam mengatakan bahwa kekuasaan adalah probabilitas untuk memengaruhi alokasi nilai-nilai otoritatif. Sementara itu, menurut Max Weber, kekuasaan adalah peluang bagi seseorang atau sejumlah orang untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri melalui suatu tindakan komunal meskipun mengalami tentangan dari orang lain yang ikut serta dalam tindakan komunal itu.

Dalam masyarakat, pembagian kekuasaan yang tidak merata sudah terjadi sejak lama. Menurut Gaetano Mosca, dalam setiap masyarakat selalu terdapat dua kelas penduduk, yaitu kelas penguasa dan kelas yang dikuasai. Kelas penguasa jumlahnya lebih sedikit daripada kelas yang dikuasai. Kelas penguasa menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu.

Menurut Vilfredo Pareto ada beberapa asas yang mendasari terbentuknya stratifikasi sosial berkaitan dengan kekuasaan politik, yaitu :
  • Kekuasaan politik, seperti halnya barang-barang sosial lainnya didistribusikan dengan tidak merata;
  • Pada hakikatnya orang yang dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu mereka memiliki kekuasaan politik penting dan mereka yang tidak memilikinya;
  • Secara internal, elite itu bersifat homogen, bersatu, dan memiliki kesadaran kelompok;
  • Elite mengatur sendiri kelangsungan hidupnya dan keanggotaannya berasal dari lapisan masyarakat yang sangat terbatas;
  • Kelompok elite pada hakikatnya bersifat otonom, kebal akan gugatan dari siapa pun di luar kelompoknya mengenai keputusan-keputusan yang dibuatnya.


Namun demikian, asas-asas tersebut lebih banyak digunakan oleh pemerintahan yang diktator. Negara demokratis, kekuasaan telah didistribusikan lebih terfragmentasi ke berbagai kelompok. Siapa pun yang berkuasa biasanya akan selalu dikontrol oleh kelompok-kelompok yang ada di luar sistem.

Penguasa dalam suatu negara disebut sebagai the rulling class atau elite politik. Mereka menduduki lapisan tertinggi dalam stratifikasi politik. Pada stratifikasi politik yang dapat digolongkan sebagai elite politik adalah pemimpin politik, pemimpin militer, pejabat tinggi, dan pengusaha-pengusaha besar.

Mereka yang berkuasa dalam suatu negara hanyalah segolongan kecil sehingga dapat disebut golongan minoritas politik. Sedangkan mereka yang dikuasai disebut sebagai golongan mayoritas karena jumlahnya lebih banyak. Menurut Mosca dan Pareto ada suatu batas dan pembagian yang jelas antara yang berkuasa dan yang dikuasai, antara minoritas dan mayoritas.

Komposisi orang-orang yang ada pada golongan minoritas dan mayoritas dapat berubah-ubah dalam suatu periode waktu. Seseorang yang tadinya bukan dari kelompok elite politik suatu saat bisa masuk menjadi elite politik. Dengan demikian, stratifikasi politik bersifat terbuka.

Stratifikasi politik berdasarkan kekuasaan bersifat bertingkat-tingkat dan menyerupai suatu piramida. Menurut Mac Iver ada tiga pola umum dalam sistem dan lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan, yaitu tipe kasta, tipe oligarki, dan tipe demokratis. Berikut penjelasannya.

1) Tipe Kasta
Tipe kasta merupakan sistem pelapisan kekuasaan dengan garis-garis pemisah yang tegas dan kaku. Dalam tipe kasta tidak memungkinkan gerak sosial vertikal. Garis pemisah antara tiap-tiap lapisan tidak mungkin ditembus. Pada puncak piramida kekuasaan diduduki raja, kemudian diikuti oleh kaum bangsawan, tentara, dan pendeta. Lapisan berikutnya terdiri atas tukang dan buruh tani. Lapisan yang terendah adalah para budak.

2) Tipe Oligarki
Dasar pembedaan pada tipe oligarki ditentukan oleh kebudayaan masyarakat setempat, terutama adanya kesepakatan yang diberikan kepada warga masyarakat untuk memperoleh kekuasaan tertentu. Perbedaan antara satu lapisan dengan lapisan lain tidak terlalu mencolok. Tipe oligarki masih mempunyai garis pemisah yang tegas. Tipe oligarki dapat dijumpai pada masyarakat feodal yang telah berkembang terutama di negara yang didasarkan pada aliran fasisme dan negara totaliter. Bedanya bahwa kekuasaan sebenarnya berada di tangan partai politik yang mempunyai kekuasaan menentukan. 

3) Tipe Demokratis
Dalam tipe demokratis garis-garis pemisah antarlapisan sifatnya fleksibel dan tidak kaku. Kelahiran tidak menentukan kedudukan dalam lapisanlapisan yang terpenting adalah kemampuan. Kadang-kadang juga faktor keberuntungan. Misalnya, seseorang dapat menduduki lapisan tertinggi sebagai kelas penguasa karena masuk dalam organisasi politik.

Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial
Unsur-unsur dalam stratifikasi sosial adalah kedudukan (status) dan peranan (role). Kedudukan dan peranan merupakan unsur pokok dalam stratifikasi sosial. Status menunjukkan tempat atau posisi seseorang dalam masyarakat. Peranan merupakan suatu tingkah laku atau tindakan yang diharapkan dari seorang individu yang menduduki status tertentu.

a. Kedudukan (Status)
Kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola atau kelompok sosial. Dengan demikian, seseorang dapat memiliki lebih dari satu status. Hal itu disebabkan seseorang biasanya hidup dalam beberapa pola kehidupan atau menjadi anggota dalam berbagai kelompok sosial. Misalnya, Dina seorang pelajar sebuah SMA. Selain sebagai seorang pelajar, Dina juga menjadi ketua OSIS, dan anggota Palang Merah Remaja. Di rumah, Dina sebagai seorang anak, seorang kakak dari dua adiknya. Selain itu, Dina juga menjadi sekretaris karang taruna di kampungnya. Dengan demikian, Dina memiliki lebih dari satu status.

Untuk mengukur status seseorang, menurut Pitirim A. Sorokin dapat dilihat pada hal-hal sebagai berikut :
  • Jabatan atau pekerjaan;
  • Pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan;
  • Kekayaan;
  • Politis;
  • Keturunan;
  • Agama.

Status pada dasarnya dibedakan atas status yang bersifat objektif dan subjektif. Status yang bersifat objektif disertai dengan hak dan kewajiban yang terlepas dari individu. Sementara itu, status yang bersifat subjektif adalah status yang menunjukkan hasil dari penilaian orang lain di mana sumber status yang berhubungan dengan penilaian orang lain tidak selamanya konsisten untuk seseorang.
Dalam masyarakat sering kali kedudukan dibedakan menjadi dua macam, yaitu ascribed status dan achieved status.

1) Ascribed status adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memerhatikan perbedaan seseorang karena kedudukan tersebut diperoleh berkat kelahiran. Dengan kata lain, status yang diperoleh dengan sendirinya atau status yang diperoleh tanpa inisiatif sendiri. Status ini dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
a) Kelahiran, Pada umumnya ascribed status berdasarkan kelahiran ini terdapat pada masyarakat dengan sistem pelapisan sosial yang tertutup. Misalnya, pada masyarakat feodal, masyarakat kasta, dan masyarakat diskriminasi sosial.
Misalnya, kedudukan seorang anak raja adalah bangsawan juga.
b) Jenis kelamin, Status berdasarkan jenis kelamin dalam masyarakat terdiri atas laki-laki dan perempuan.
c) Umur atau usia, Menurut umur, status dibedakan atas muda, sedang, dan tua.
d) Anggota keluarga, Status dalam keluarga terdiri atas ayah, ibu, dan anak.

2) Achieved status adalah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha sendiri. Kedudukan ini misalnya setiap orang dapat menjadi hakim, dokter, jika memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti telah menempuh pendidikan kehakiman dan kedokteran.

Selain ascribed status dan achieved status ada lagi status dalam masyarakat, yaitu assigned status. Assigned status adalah status atau kedudukan yang diberikan atau dianugerahkan. Assigned status mempunyai hubungan yang erat dengan achieved status. Contohnya pemberian gelar kebangsawanan kepada tokoh yang dianggap berjasa terhadap masyarakat.

b. Peranan (Role)
Peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya maka dia berarti telah menjalankan suatu peran. Peran dan kedudukan tidak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lainnya saling tergantung. Tidak ada peran tanpa status dan tidak ada status tanpa peran. Seseorang dalam masyarakat bisa memiliki lebih dari satu peran dari pola pergaulan hidupnya. Suatu peran paling sedikit mencakup tiga hal, yaitu:
  • Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat;
  • Peran adalah suatu konsep ikhwal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat; dan
  • Peran dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial dalam masyarakat.


Peran sangat penting karena dapat mengatur perilaku seseorang. Selain itu, peran dapat memperkirakan perbuatan orang lain pada batas-batas tertentu sehingga seseorang dapat menyesuaikan perilakunya dengan perilaku orang lain.

Peran dapat berarti sebagai perangkat harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. Berdasarkan pelaksanaannya, peranan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

1) Harapan-harapan masyarakat terhadap pemegang peran. Hal ini merupakan kewajiban bagi pemegang peran (role expection).
2) Harapan-harapan yang dimiliki pemegang peran terhadap masyarakatnya. Hal ini merupakan hak yang harus diterima pemegang peran.

Peran seseorang dalam masyarakat bisa berubah-ubah tergantung subjek yang dihadapinya. Seiring dengan adanya konflik antar peran, maka ada juga konflik peran. Untuk itu, pemisahan antara individu dengan peran yang sesungguhnya harus dilaksanakan (role distance). 

Role distance terjadi apabila individu merasakan dirinya tertekan karena dirinya merasa tidak sesuai untuk melaksanakan peran yang diberikan masyarakat kepadanya. Dengan demikian, ia tidak dapat melaksanakan perannya dengan sempurna atau bahkan menyembunyikan diri.

Peran dapat membimbing seseorang dalam berperilaku. Adapun fungsi peran adalah sebagai berikut :
Memberi arah pada proses sosialisasi;
Pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma dan pengetahuan;
Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat;
Menghidupkan sistem pengendali dan kontrol sehingga dapat melestarikan kehidupan mereka.

Fungsi Stratifikasi Sosial
Adapun fungsi peran Stratifikasi Sosial adalah sebagai berikut:
  • Sebagai alat pendistribusian hak dan kewajiban pada setiap lapisan atau strata;
  • Menempatkan individu-individu pada strata tertentu;
  • Sebagai pemersatu dengan pola mengkoordinasikan bagian-bagian yang ada dalam struktur sosial guna mencapai tujuan yang telah disepakati;
  • Dapat memecahkan persoalan-persoalan dalam masyarakat;
  • Mendorong masyarakat bergerak sesuai dengan fungsinya.


Demikian artikel dari webmateri mengenai Stratifikasi Sosial, Bentuknya, Unsurnya, dan Fungsinya. Semoga informasi ini berguna bagi sobat sekalian. Terima kasih telah berkunjung ke webmateri.com

Sumber : Budiyono, Sosiologi 2 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Subscribe to receive free email updates: