Konflik Sosial (Penyebab dan Dampak Terjadinya)

Konflik Sosial (Penyebab dan Dampak Terjadinya). Pada kesempatan kali ini webmateri akan memberikan informasi mengenai materi mata pelajaran Sosiologi. Adapun materi yang akan dibahas adalah Penyebab Konflik Sosial dan dampak terjadinya. Mari kita simak bersama materinya dibawah ini.

Penyebab Konflik
Konflik dan tata tertib sosial yang bersifat normatif selalu ada dalam masyarakat. Keduanya melekat bersama-sama. Terciptanya ketertiban atau keteraturan sosial bukan berarti lenyapnya atau tidak adanya konflik dalam masyarakat. Tidak dapat diabaikan bahwa dalam masyarakat yang teratur pasti ada konflik.

Dalam masyarakat yang teratur atau setertib apa pun pasti ada konflik walaupun hanya bersifat potensial. Harus diingat bahwa dalam masyarakat terkandung
kenyataan-kenyataan sebagai berikut :
  • Setiap struktur sosial, di dalam dirinya sendiri, mengandung konflik-konflik dan kontradiksi-kontradiksi yang bersifat internal. Pada gilirannya justru menjadi sumber bagi terjadinya perubahan-perubahan sosial.
  • Reaksi dari suatu sistem sosial terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar dan tidak selalu bersifat adjustive.
  • Suatu sistem sosial dapat juga mengalami konflik–konflik sosial dalam waktu yang panjang.
  • Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara bertahap melalui penyesuaian-penyesuaian yang lunak.

Konflik Sosial (Penyebab dan Dampak Terjadinya) (image: freepik.com)

Akan tetapi, dapat juga terjadi secara revolusioner. Hal itu berbeda dengan pendapat dari pendekatan konflik. Pendekatan konflik memiliki anggapan tersendiri terhadap masyarakat yang berpotensi terhadap konflik. Anggapan tersebut adalah sebagai berikut :
  • Setiap masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir. Seperti diketahui bahwa perubahan berpotensi untuk timbulnya konflik.
  • Setiap masyarakat mengandung konflik-konflik di dalam dirinya.
  • Setiap unsur dalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial.
  • Setiap masyarakat terintegrasi di atas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang lain.


Banyak faktor telah menyebabkan terjadinya konflikkonflik. Menurut Morton Deutsch (1973), konflik timbul karena pola hubungan saling ketergantungan yang negative antara pihak yang berkonflik. Setiap konflik memiliki dimensi kooperatif dan kompetitif sekaligus. Konflik dengan kadar kompetisi yang tinggi akan mengakibatkan destruktif.

Sementara itu, konflik dalam iklim kooperasi yang tinggi akan mengakibatkan konstruktif. Namun, tidak hanya faktor-faktor itu saja yang menyebabkan terjadinya konflik. Masih banyak faktor lain penyebab timbulnya konflik dalam masyarakat. Berikut ini merupakan sebab-sebab terjadinya konflik dalam masyarakat.
  • Perbedaan pendirian dan keyakinan orang per orang yang menyebabkan konflik antarindividu. Dalam hal ini masing-masing pihak berusaha membinasakan lawan baik fisik maupun pikiran-pikiran dan ide yang tidak disetujuinya.
  • Perbedaan kebudayaan akan menimbulkan konflik antarindividu bahkan antarkelompok. Perbedaan kebudayaan memengaruhi pola pemikiran dan tingkah laku perseorangan dalam kelompok kebudayaan yang bersangkutan.
  • Perbedaan kepentingan. Hal itu terjadi karena masing-masing pihak berusaha mengejar tujuan untuk memenuhi kebutuhan masingmasing yang berbeda. Konflik karena perbedaan kepentingan ini dalam rangka memperebutkan kesempatan dan sarana.
  • Perubahan sosial yang cepat akan mengakibatkan disorganisasi dan perbedaan pendirian.
  • Bentrokan antarkepentingan, antara lain karena masalah ekonomi, sosial, politik, dan hukum.
  • Ketidakadilan dalam masyarakat.
  • Terkikisnya nilai-nilai kebersamaan dan keharmonisan.


Dari berbagai sebab konflik tersebut, unsur perasaan memegang peran penting dalam mempertajam perbedaan sehingga setiap pihak berusaha saling mengalahkan. Konflik yang terjadi dalam masyarakat bisa berubah menjadi kekerasan apabila konflik sudah pada taraf mencederai, menyebabkan matinya orang lain, dan menimbulkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Proses sosial dalam masyarakat ada juga yang dapat menyebabkan konflik. Proses sosial yang menyebabkan atau berpeluang menimbulkan konflik adalah persaingan dan kontravensi. Untuk lebih jelasnya, kita pelajari dahulu tentang persaingan dan kontravensi.

a. Persaingan (Competition)
Dalam persaingan individu atau kelompok berusaha mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum. Cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu adalah dengan menarik perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Jika dikelompokkan, ada dua macam persaingan, yaitu persaingan yang bersifat pribadi dan tidak pribadi atau kelompok. 

Persaingan pribadi merupakan persaingan yang dilakukan orang per orang atau individu untuk memperoleh kedudukan dalam organisasi. Persaingan kelompok, misalnya terjadi antara dua macam perusahaan dengan produk yang sama untuk memperebutkan pasar di suatu wilayah.

Persaingan pribadi dan kelompok menghasilkan beberapa bentuk persaingan, antara lain persaingan di bidang ekonomi, kebudayaan, kedudukan dan peranan, serta persaingan ras.

1) Persaingan di Bidang Kebudayaan
Persaingan di bidang kebudayaan merupakan persaingan antara dua kebudayaan untuk memperebutkan pengaruh di suatu wilayah. Persaingan kebudayaan misalnya terjadi antara kebudayaan pendatang dengan kebudayaan penduduk asli. Bangsa pendatang akan berusaha agar kebudayaannya dipakai di wilayah di mana ia datang. Begitu pula sebaliknya, penduduk asli akan berusaha agar bangsa pendatang menggunakan kebudayaannya dalam kehidupan.

2) Persaingan Kedudukan dan Peranan
Apabila dalam diri seseorang atau kelompok terdapat keinginan-keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan dan peranan terpandang maka terjadilah persaingan. Kedudukan dan peranan yang dikejar tergantung pada apa yang paling dihargai oleh masyarakat pada suatu masa tertentu.

3) Persaingan Ras
Persaingan ras sebenarnya juga merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Perbedaan ras baik perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun corak rambut hanya merupakan suatu perlambang kesadaran dan sikap atau perbedaan-perbedaan dalam kebudayaan. Persaingan dalam batas-batas tertentu memiliki fungsi. Berikut ini adalah beberapa fungsi persaingan :
  • Alat untuk mengadakan seleksi atas dasar jenis kelamin dan sosial;
  • Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif;
  • Jalan untuk menyalurkan keinginan, kepentingan, serta nilai-nilai yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian sehingga tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing;
  • Alat untuk menyaring para warga golongan fungsional sehingga menghasilkan pembagian kerja yang efektif. 


Persaingan dalam segala bentuknya akan menghasilkan hal-hal yang bersifat positif maupun negatif. Hal-hal positif yang dihasilkan dengan adanya persaingan, antara lain makin kuatnya solidaritas kelompok, dicapainya kemajuan, dan terbentuknya kepribadian seseorang.

1) Makin Kuatnya Solidaritas Kelompok
Persaingan yang dilakukan dengan jujur akan menyebabkan individu saling menyesuaikan diri dalam hubungan sosialnya. Dengan demikian, keserasian dalam kelompok akan tercapai. Hal itu bisa tercapai apabila persaingan dilakukan dengan jujur.

2) Dicapainya Kemajuan
Persaingan akan lebih banyak dijumpai pada masyarakat yang maju dan berkembang pesat. Untuk itu, individu yang berada dalam masyarakat tersebut harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Persaingan akan menyebabkan seseorang terdorong untuk bekerja keras supaya dapat berperan dalam masyarakat.

3) Terbentuknya Kepribadian Seseorang
Persaingan yang dilakukan dengan jujur dapat menimbulkan tumbuhnya rasa sosial dalam diri seseorang. Namun sebaliknya, persaingan juga bisa menimbulkan hal yang negatif, yaitu terciptanya disorganisasi. Adanya disorganisasi karena masyarakat hampir tidak diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri dan melakukan reorganisasi saat terjadi perubahan. Hal itu disebabkan karena perubahan yang terjadi bersifat cepat atau revolusi.

b. Kontravensi
Kontravensi berasal dari bahasa Latin, contra dan venire yang berarti menghalangi atau menantang. Kontravensi merupakan usaha untuk menghalang-halangi pihak lain dalam mencapai tujuan. Tujuan utama tindakan dalam kontravensi adalah menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain. Hal itu dilakukan karena rasa tidak senang atas keberhasilan pihak lain yang dirasa merugikan. Namun demikian, dalam kontravensi tidak ada maksud untuk menghancurkan pihak lain. Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker ada lima macam bentuk kontravensi.

1) Kontravensi umum, antara lain dilakukan dengan penolakan, keengganan, perlawanan, perbuatan menghalanghalangi, protes, gangguan-gangguan, dan kekerasan.
2) Kontravensi sederhana, antara lain dilakukan dengan menyangkal pernyataan pihak lain di depan umum, memakimaki orang lain melalui selebaran, mencerca, dan memfitnah.
3) Kontravensi intensif, antara lain dilakukan dengan menghasut, menyebarkan desas-desus, dan mengecewakan pihak lain.
4) Kontravensi rahasia, antara lain dilakukan dengan pengkhianatan dan mengumumkan rahasia pihak lain.
5) Kontravensi taktis, antara lain dilakukan dengan mengejutkan lawan dan mengganggu pihak lain.

Dampak Terjadinya Konflik
Leuis A. Coser dalam bukunya Conflict menguraikan bahwa konflik adalah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan-tuntutan berkenaan dengan status, kekuasaan, dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi. Dalam konflik tersebut, pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barang yang diinginkan, tetapi juga memojokkan, merugikan, atau menghancurkan lawan. 

Bagaimanapun konflik selalu ada dalam kehidupan masyarakat. Konflik merupakan salah satu unsur interaksi. Walaupun konflik selalu dikonotasikan negatif karena tidak jarang menimbulkan perpecahan, namun tidak dapat dikatakan bahwa konflik selalu berakibat tidak baik. Artinya, konflik juga dapat menyebabkan eratnya hubungan antara anggota kelompok. Selain itu, konflik juga menyebabkan kelestarian kelompok.

Dari konflik selama diskusi akan ditemukan pemecahan dan pemikiran yang bagus serta mewakili banyak kepentingan. Jadi, positif tidaknya akibat konflik tergantung persoalan yang dipertentangkan dan pola struktur sosial yang menjadi ajang berlangsungnya konflik..

Berikut ini merupakan dampak terjadinya konflik dalam masyarakat.
a. Bertambahnya solidaritas intern dan rasa in group suatu kelompok. Apabila terjadi pertentangan antarkelompok, solidaritas antaranggota masing-masing kelompok akan meningkat sekali. Solidaritas di dalam suatu kelompok yang pada situasi normal sulit dikembangkan akan berlangsung meningkat pesat saat terjadinya konflik dengan pihak-pihak luar.
b. Memudahkan perubahan kepribadian individu. Hal itu terjadi apabila ada konflik-konflik antarkelompok. Individu-individu dalam tiap-tiap kelompok akan mengubah kepribadiannya untuk mengidentifikasikan dirinya secara penuh dengan kelompoknya.
c. Goyah dan retaknya persatuan kelompok apabila terjadi konflik antargolongan dalam satu kelompok.
d. Menimbulkan dampak psikologis yang negatif, seperti perasaan tertekan sehingga menjadi siksaan terhadap mentalnya, stress, kehilangan rasa percaya diri, rasa frustasi, cemas, dan takut. Hal ini dapat terjadi pada pribadi-pribadi individu yang tidak tahan menghadapi situasi konflik.
e. Mematikan semangat kompetisi dalam masyarakat karena pribadi yang mendapat tekanan psikologis akibat konflik cenderung pasrah dan putus asa.
f. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia. Hal tersebut terjadi apabila konflik telah mencapai pada tahap kekerasan, seperti perang. Bentrok antarkelompok masyarakat, dan konflik antarsuku bangsa.
g. Munculnya akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak. Keadaan tersebut akan muncul apabila ada tanda-tanda sebagai berikut : 
  • Akomodasi akan muncul apabila kekuatan pihak-pihak yang bertentangan seimbang.
  • Dominasi akan muncul apabila terjadi ketidakseimbangan antara kekuatan-kekuatan pihak yang mengalami konflik.
  • Munculnya kekuatan-kekuatan dari pihak yang mendominasi konflik akan menyebabkan takluknya salah satu pihak terhadap kelompok pemenang.

Demikian artikel dari webmateri mengenai Penyebab Konflik Sosial dan dampak terjadinya. Semoga informasi ini berguna bagi sobat sekalian. Terima kasih telah berkunjung ke webmateri.com

Sumber : Budiyono, Sosiologi 2
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Subscribe to receive free email updates: