Rangkuman Materi Agama Kelas XII Bab 5 (Part 2)

Rangkuman Materi Agama Kelas XII Bab 5 (Part 2) merupakan artikel yang berisi ringkasan atau rangkuman materi dari mata pelajaran yang ada pada kelas XII semester satu khusus untuk bagian Bab 5. Untuk rangkuman materi Bab lainnya dapat anda lihat pada artikel lainnya di webmateri. Mari kita simak bersama rangkuman dari Bab 5 (Part 2) dibawah ini.

Apa Saja Kewajiban Suami dan Istri ?
Secara umum kewajiban suami-istri adalah sebagai berikut.
Berikut adalah Kewajiban Suami :
  • Memberi nafkah, sandang, pangan, dan tempat tinggal kepada istri dan anak-anaknya, sesuai dengan kemampuan yang diusahakan secara maksimal.
  • Memelihara istri dan anak-anak dari bencana.
  • Membantu istri dalam tugas sehari-hari.
  • Memimpin serta membimbing istri dan anak-anak.
  • Bergaul dengan istri dan anak-anak dengan baik (makruf)
Berikut adalah Kewajiban Istri :
  • Taat kepada suami dalam batas-batas yang sesuai dengan ajaran islam.
  • Memelihara diri serta kehormatan dan harta benda suami.
  • Menerima dan menghormati pemberian suami walaupun sedikit.
  • Hormat dan sopan kepada suami dan keluarganya.
  • Membantu suami dalam memimpin kesejahteraan dan keselamatan keluarganya.
  • Memelihara, mengasuh, dan mendidik anak agar menjadi anak yang saleh.

Apa penjelasan mengenai Perceraian ?

Perceraian berarti pemutusan ikatan perkawinan antara suami dan istri. Salah satu sebab perceraian adalah perselisihan atau pertengkaran suami-istri yang sudah tidak dapat didamaikan lagi, walaupun sudah didatangkan hakim (juru damai) dari pihak suami dan pihak istri.

Hal-hal yang dapat memutuskan ikatan perkawinan adalah meninggalnya salah satu pihak suami atau istri, talak, fasakh, khulu, li’an, ila’, dan zihar.
Adapun penjelasannya sebagai berikut:

Apa yang dimaksud dengan Talak ?
Talak berarti melepaskan ikatan perkawinan dengan mengucapkan secara suka rela ucapan talak dari pihak suami kepada istrinya. Asal hukum talak adalah makruh (sesuatu yang dibenci atau tidak disenangi).
Talak dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
Talak Raj’i
Talak Ba’in

Apa yang dimaksud dengan Fasakh ?

Fasakh adalah pembatalan pernikahan antara suami-istri karena sebab-sebab tertentu. Fasakh dilakukan oleh hakim agama, karena adanya pengaduan dari istri atau suami dengan alasan yang dapat dibenarkan.

Apa yang dimaksud dengan Khulu ?
Menurut istilah bahasa, khulu berarti tanggal. Dalam ilmu fikih, khulu adalah talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya, dengan jalan tebusan dari pihak istri, baik dnengan jalan mengembalikan mas kawin kepada suaminya, atau dengan memberikan sejumlah uang (harta) yang disetujui oleh mereka berdua.

Apa yang dimaksud dengan Li’an ?
Li’an adalah sumpah suami yang menuduh istrinya berzina.

Apa yang dimaksud dengan Ila’ ?
Ila’ berarti sumpah suami yang mengatakan bahwa ia tidak akan meniduri istrinya selama empat bulan atau lebih, atau dalam masa yang tidak ditentukan.

Apa yang dimaksud dengan Zihar ?
Zihar adalah ucapan suami yang menyerupakan istrinya dengan ibunya.

Apa Penjelasan mengenai ‘Iddah ?
‘Iddah berarti masa menunggu bagi istri yang ditinggal mati atau bercerai dari suaminya untuk dibolehkan menikah kembali dengan laki-laki lain. Tujuan ‘iddah antara lain untuk melihat perkembangan, apakah istri yang bercerai itu hamil atau tidak.
Lama masa ‘iddah adalah sebagai berikut:
  • ‘Iddah karena suami wafat
  • Bagi istri yang sedang tidak hamil, baik sudah campur dengan suaminya yang wafat atau belum, massa ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari.
  • Bagi istri yang sedang hamil, masa ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.
  •  ‘Iddah karena talak, fasakh, dan khulu’
  • Bagi istri yang belum campur dengan suami yang baru saja bercerai dengannya, tidak ada masa ‘iddah.
  • Bagi istri yang sudah campur, masa ‘iddahnya adalah:
  • Bagi yang masih mengalami menstruasi, masa ‘iddahnya ialah tiga kali suci.
  • Bagi istri yang sudah menopause, masa ‘iddahnya adalah tiga bulan.
  • Bagi istri yang sedang mengandung, masa ‘iddahnya ialah sampai dengan melahirkan kandungannya.

Apa Penjelasan mengenai Rujuk ?
Rujuk berarti kembali, yaitu kembalinya suami kepada ikatan nikah dengan istrinya sebagaimana semula, selama istrinya masih berada dalam masa ‘iddah raj’iyah.

Bagaimana mengenai hukum Rujuk ?
Hukum rujuk asalnya mubah, artinya bolehrujuk boleh pula tidak. Akan tetapi hukum rujuk bisa berubah, sebagai berikut:
  • Sunah, misalnya apabila rujuknya suami kepada istrinya dengan niat karena Allah, untuk memperbaiki sikap dan perilaku serta bertekad untuk menjadikan rumah tangganyasebagai rumah tangga bahagia.
  • Wajib, misalnya bagi suami yang mentalak salah seorang istrinya, sedangkan sebelum mentalaknya, ia belum menyempurnakan pembagian waktunya.
  • Makruh (dibenci), apabila meneruskan perceraian lebih bermanfaat daripada rujuk.
  • Haram, misalnya jika maksud rujuknya suami adalah untuk menyakiti istri atau mendurhakai Allah SWT.

Apa saja rukun dari Rujuk ?
Rukun rujuk ada empat macam, yaitu:
  • Istri sudah  bercampur dengan suami yang mentalaknya dan masih berada pada masa ‘iddah raj’iyah.
  • Keinginan rujuk suami atas kehendak sendiri, bukan karena dipaksa.
  • Ada dua orang saksi, yaitu dua orang laki-laki yang adil.
  • Ada sigat atau ucapan rujuk.

Apa sebenarnya hikmah pernikahan ?
Fuqaha (ulama fiqih) menjelskan tentang hikmah-hikamh pernikahan yang islami, antara lain:
  • Memenuhi kebutuhan seksual dengan cara yang diridai Allah, dan menghindari cara yang dimurkai Allah.
  • Pernikahan merupakan cara yang benar, baik, dan diridai Allah untuk memperoleh anak serta mengembangkan keturunan yang sah.
  • Melalui pernikahan, suami-istri harus saling bertanggung jawab dalam mengurus keluarga.
  • Menjalin hubungan silaturahmi antara keluarga suami dan keluarga istri.

Bagaimana Perkawinan menurut perundang-undangan di indonesia
Perkawinan diatur dalam Keputusan Menteri Agama RI No. 154/1991 tentang Pelaksanaan Instruksi Presiden RI NO. 1/1991 tanggal 10 Juni 1991 mengenai Kompilasi Hukum Islam di Bidang Hukum Perkawinan.

Sahnya Perkawinan

Dalam pasal 4 Kompilasi Hukum Islam di Bidang Hukum Perkawinan dijelaskan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut Hukum Islam sesuai dengan pasal 2 ayat (1) UU RI No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, yang menegaskan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.

Pengertian dan Tujuan Perkawinan

Dalam pasal 2 dan pasal 3 dari Kompilasi Hukum Islam di Bidang Hukum Perkawinan dijelaskan bahwa pengertian perkawinan menurut Hukum Islam adalah pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau misaqan galizan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Tujuan perkawinan ialah untuk mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

via : freepik.com

Akta Nikah
Dalam pasal 7 ayat (1) dari Kompilasi Hukum Islam dibidang hukum perkawinan dijelaskan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah.
Akta Nikah atau Buku Nikah (Surat Nikah) adalah surat keterangan yang dibuat oleh Pegawai Pencatat Nikah yakni KUA Kecamatan.
Surat nikah tersebut ditandatangani oleh Pegawai Pencatat Nikah diatas materai dan distempel, lalu diserahkan kepada kedua mempelai yang telah melakukan akad nikah.

Kawin Hamil
Dalam pasal 53 ayat (1), (2), dan (3) dari Kompilasi Hukum Islam dibidang perkawinan dijelaskan:
Seorang wanita hamil diluar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak lahir.

Pencatatan Perkawinan
Dalam pasal 5 dan 6 Kompilasi Hukum di Bidang Hukum Perkawinan dijelaskan:
Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat.
Pencatatan perkawinan dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah.
Agar pelaksanaan pencatatan perkawinan itu dapat berlangsung dengan baik, maka setiap perkawinan harus dilaksanakan dihadapan dan dibawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah.
Perkawinan yang dilakukan diluar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum.

Demikian artikel yang berisikan informasi tentang rangkuman materi Agama kelas XII semester 1 bagian Bab 5 (Part 2). Untuk artikel lainnya dapat anda lihat di webmateri ini. Semoga artikel ini berguna bagi anda. Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Subscribe to receive free email updates: